WHAT
SHOULD I DO?
Semua orang pasti pernah memiliki rasa
suka. Ya rasa suka, sebuah rasa ketika kita tertarik kepada sesuatu dimapun
itu, kapanpun itu dan apapun itu. Terkadang kita terlalu tertarik kepada
sesuatu hal hingga tanpa kita sadari kita menjadi sangat takut untuk
kehilangannya. Begitu juga mengenai rasa suka kepada seseorang. Rasa suka
terhadap seseorang biasanya muncul secara tiba-tiba tanpa kita dapat menentukan
kepada siapa kita akan memilih orang untuk menjadi seseorang yang kita sukai,
atau kita bisa sebut bahwa rasa suka itu random.
Sebagai seorang manusia tentu saja saya
juga pernah merasakan perasaan itu. Rasa suka yang banyak memberikan pelajaran
bagi saya, terutama rasa suka kepada seseorang. Dari rasa suka tersebut saya
belajar mengenai arti perjuangan hingga akhirnya sekarang saya tahu seperti
halnya seorang tentara yang akan pergi berperang. Seorang tentara yang akan
berperang pasti akan membawa senapannya, namun saya rasa senapan bukanlah hal
yang terpenting namun yang terpenting adalah rasa berani dan ikhlas yang
dimiliki oleh tentara tersebut, berani disini berarti berani mati. Di dalam sebuah
perang tentara pasti tidak akan gentar menghadapi kematian karena saya pikir
sekalipun dia mati di medan perang apa yang dia lakukan akan dikenang dan
menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya. Begitu juga dengan kita, ketika kita
akan berjuang kita harus membawa bekal
rasa ikhlas agar ketika perjuangan kita tidak dihargai kita tetap tahu bahwa
perjuangan kita juga sebuah pelajaran yang berarti.
Seperti halnya rasa suka kepada seseorang
pada umumnya, saya juga berusaha untuk mendekati orang tersebut. Saya mencoba
memberikan semua yang terbaik yang ada di dalam diri saya. Namun, saya sadar
bahwa sebaik atau sebanyak apapun kebaikan yang kita berikan kepada seseorang
hal itu tidak bisa menjadi jaminan bahwa orang tersebut akan memperlakukan hal
yang sama kepada kita. Is that true? Yap, karena kita juga tidak bisa menuntut
seseorang melakukan sesuatu persis sama dengan apa yang kita lakukan. Lalu apa
yang akan terjadi ketika seseorang yang kita perjuangkan tidak memberikan feedback yang baik? Menurut saya, hal
ini adalah sebuah petuah bagi kita bahwa kita tidak dapat memperjuangkannya
lagi atau secara singkatnya berarti
kegagalan. Bagi golongan orang yang sudah benar-benar gila pasti dia akan
mencoba untuk terus mengejarnya dengan segala cara yang bisa dilakukan. Namun
sebaliknya, bagi orang yang berbekal rasa ikhlas sebelumnya pasti bisa menerima
keadaan dan memilih untuk pergi. Nah, masalahnya disini memutuskan untuk pergi
adalah hal yang diluar keinginan sehingga pasti sulit untuk dilakukan. Jadi menurut
saya merasa sedih adalah hal yang wajar, justru yang tidak wajar adalah
orang-orang yang sesungguhnya tidak mengetahui apa yang terjadi namun tidak bisa
berhenti untuk mengejek bahkan mencela kita karena kita yang tidak mudah untuk
pergi.
Sesungguhnya saya sendiri juga mengakui
bahwa pergi dari zona nyaman, zona dimana kita pernah berada satu tempat dengan
orang yang kita sukai adalah hal yang teramat sulit dan membutuhkan perjuangan
yang berat. Jadi, menurut saya bisa pergi meninggalkan zona tersebut merupakan
sebuah prestasi tersendiri bagi saya. Akan tetapi kita juga harus mengerti
bahwa kecepatan untuk meninggalkan zona nyaman juga dipengaruhi oleh faktor
sikap orang yang kita sukai, ya apabila dulu mereka sangat baik tentu saja
membutuhkan waktu yang lama pula untuk meninggalkannya.
Namun
yang masih menjadi pertanyaan saya sampai sekarang, Apakah semuanya selesai
dengan nyaman, aman dan damai ketika kita bisa meninggalkan zona nyaman
tersebut? TIDAK!!! Terkadang ketika kita berhasil pergi, yang ada adalah
masalah baru yang akan muncul ketika kita berjumpa kembali. Mengingat kembali
mengenai pribadi manusia yang berbeda-beda maka reaksi yang kita jumpai dari
orang yang “pernah” kita sukai pun berbeda-beda. Saya pernah membaca sebuah
kalimat yang berbunyi,” Biasanya kedua orang yang masih bisa berteman ketika
dulu sempat dekat, dulunya memang tidak saling menyukai bahkan mencintai”. Tapi
saya berani membantah kalimat tersebut karena menurut saya apabila kita bisa
tetap menjalin relasi yang baik dengan orang yang “pernah” kita sukai hal itu
menjadi sebuah nilai plus bagi kita karena tanpa kita sadari kita sudah belajar
mengenai banyak hal termasuk rasa ikhlas yang sudah saya bahas di atas. Lalu
bagaimana dengan orang yang seolah tidak mau menjalin relasi yang baik kembali
dengan kita? Saya sendiri mencoba untuk berbuat baik kepada dia walaupun selama
ini tidak mendapat respon yang baik. Bahkan saking parahnya saya berani
menyebutnya seperti air susu yang dibalas dengan air tuba. Lalu apa yang harus
kita lakukan dengan orang tersebut? Nah, saya juga masih bingung karena
sejujurnya tulisan ini bukanlah sebuah cerita namun sebuah pertanyaan yang
terus berputar-putar di dalam kepala saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar