Senin, 16 November 2015

WHAT SHOULD I DO?

WHAT SHOULD I DO?
Semua orang pasti pernah memiliki rasa suka. Ya rasa suka, sebuah rasa ketika kita tertarik kepada sesuatu dimapun itu, kapanpun itu dan apapun itu. Terkadang kita terlalu tertarik kepada sesuatu hal hingga tanpa kita sadari kita menjadi sangat takut untuk kehilangannya. Begitu juga mengenai rasa suka kepada seseorang. Rasa suka terhadap seseorang biasanya muncul secara tiba-tiba tanpa kita dapat menentukan kepada siapa kita akan memilih orang untuk menjadi seseorang yang kita sukai, atau kita bisa sebut bahwa rasa suka itu random.
Sebagai seorang manusia tentu saja saya juga pernah merasakan perasaan itu. Rasa suka yang banyak memberikan pelajaran bagi saya, terutama rasa suka kepada seseorang. Dari rasa suka tersebut saya belajar mengenai arti perjuangan hingga akhirnya sekarang saya tahu seperti halnya seorang tentara yang akan pergi berperang. Seorang tentara yang akan berperang pasti akan membawa senapannya, namun saya rasa senapan bukanlah hal yang terpenting namun yang terpenting adalah rasa berani dan ikhlas yang dimiliki oleh tentara tersebut, berani disini berarti berani mati. Di dalam sebuah perang tentara pasti tidak akan gentar menghadapi kematian karena saya pikir sekalipun dia mati di medan perang apa yang dia lakukan akan dikenang dan menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya. Begitu juga dengan kita, ketika kita akan  berjuang kita harus membawa bekal rasa ikhlas agar ketika perjuangan kita tidak dihargai kita tetap tahu bahwa perjuangan kita juga sebuah pelajaran yang berarti.
Seperti halnya rasa suka kepada seseorang pada umumnya, saya juga berusaha untuk mendekati orang tersebut. Saya mencoba memberikan semua yang terbaik yang ada di dalam diri saya. Namun, saya sadar bahwa sebaik atau sebanyak apapun kebaikan yang kita berikan kepada seseorang hal itu tidak bisa menjadi jaminan bahwa orang tersebut akan memperlakukan hal yang sama kepada kita. Is that true?  Yap, karena kita juga tidak bisa menuntut seseorang melakukan sesuatu persis sama dengan apa yang kita lakukan. Lalu apa yang akan terjadi ketika seseorang yang kita perjuangkan tidak memberikan feedback yang baik? Menurut saya, hal ini adalah sebuah petuah bagi kita bahwa kita tidak dapat memperjuangkannya lagi atau  secara singkatnya berarti kegagalan. Bagi golongan orang yang sudah benar-benar gila pasti dia akan mencoba untuk terus mengejarnya dengan segala cara yang bisa dilakukan. Namun sebaliknya, bagi orang yang berbekal rasa ikhlas sebelumnya pasti bisa menerima keadaan dan memilih untuk pergi. Nah, masalahnya disini memutuskan untuk pergi adalah hal yang diluar keinginan sehingga pasti sulit untuk dilakukan. Jadi menurut saya merasa sedih adalah hal yang wajar, justru yang tidak wajar adalah orang-orang yang sesungguhnya tidak mengetahui apa yang terjadi namun tidak bisa berhenti untuk mengejek bahkan mencela kita karena kita yang tidak mudah untuk pergi.
Sesungguhnya saya sendiri juga mengakui bahwa pergi dari zona nyaman, zona dimana kita pernah berada satu tempat dengan orang yang kita sukai adalah hal yang teramat sulit dan membutuhkan perjuangan yang berat. Jadi, menurut saya bisa pergi meninggalkan zona tersebut merupakan sebuah prestasi tersendiri bagi saya. Akan tetapi kita juga harus mengerti bahwa kecepatan untuk meninggalkan zona nyaman juga dipengaruhi oleh faktor sikap orang yang kita sukai, ya apabila dulu mereka sangat baik tentu saja membutuhkan waktu yang lama pula untuk meninggalkannya.

 Namun yang masih menjadi pertanyaan saya sampai sekarang, Apakah semuanya selesai dengan nyaman, aman dan damai ketika kita bisa meninggalkan zona nyaman tersebut? TIDAK!!! Terkadang ketika kita berhasil pergi, yang ada adalah masalah baru yang akan muncul ketika kita berjumpa kembali. Mengingat kembali mengenai pribadi manusia yang berbeda-beda maka reaksi yang kita jumpai dari orang yang “pernah” kita sukai pun berbeda-beda. Saya pernah membaca sebuah kalimat yang berbunyi,” Biasanya kedua orang yang masih bisa berteman ketika dulu sempat dekat, dulunya memang tidak saling menyukai bahkan mencintai”. Tapi saya berani membantah kalimat tersebut karena menurut saya apabila kita bisa tetap menjalin relasi yang baik dengan orang yang “pernah” kita sukai hal itu menjadi sebuah nilai plus bagi kita karena tanpa kita sadari kita sudah belajar mengenai banyak hal termasuk rasa ikhlas yang sudah saya bahas di atas. Lalu bagaimana dengan orang yang seolah tidak mau menjalin relasi yang baik kembali dengan kita? Saya sendiri mencoba untuk berbuat baik kepada dia walaupun selama ini tidak mendapat respon yang baik. Bahkan saking parahnya saya berani menyebutnya seperti air susu yang dibalas dengan air tuba. Lalu apa yang harus kita lakukan dengan orang tersebut? Nah, saya juga masih bingung karena sejujurnya tulisan ini bukanlah sebuah cerita namun sebuah pertanyaan yang terus berputar-putar di dalam kepala saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar