Sepakbola dan Jatuh Cinta
Penulis-penulis bahkan banyak orang sering berkata: Kita tidak bisa memilih jatuh cinta kepada siapa.
Setuju atau tidak, hal yang sama berlaku juga dalam menjadi fans atau
supporter dalam dunia sepakbola. Dengan dimulainya perhelatan
liga-liga di Eropa, mari kita juga menengok sejenak lapangan hijau dan
melihat sepakbola dalam bentuk yang lebih luas, cinta.
Bagi saya, sepakbola dan cinta adalah hal yang sama. Keduanya adalah passion.
Keduanya berasal dari hati. Keduanya adalah harapan.
Kasarnya, tanyakan pada para jomblo yang malam minggunya ditemani
pertandingan sepakbola? Tidak terlalu berasa sendiri kan? Atau terkadang
menunggu tim favorit anda bertanding selama satu minggu hampir sama
rasanya bertemu dengan kekasih yang telah lama tak berjumpa. Kalo
menurut anda tidak, ya sudah terima saja dulu.
Bagi saya, cinta tanpa alasan adalah bullshit. Hmm,
sebenarnya tidak sepenuhnya omong-kosong, tapi inilah teori saya: Anda
tidak bisa benar-benar jatuh cinta tanpa alasan yang jelas. Kurang
setuju? Mari lanjutkan baca tulisan saya sejenak dan lihat bagaimana
saya memperlihatkan apa yang katakan di atas dengan sepakbola.
Ada fans MU di sini? Atau Juventus? Atau Real Madrid? Atau tim
manapun? Boleh saya bertanya sesuatu, mengapa anda menjadi fans tim
tersebut? Saya akan berterima kasih jika ada yang menjawab karena tim
favorit anda selalu meraih trofi, karena pemain kesukaan anda bermain
untuk tim tersebut, karena tim tersebut baru saja dibeli taipan minyak
Arab atau alasan lainnya yang secara duniawi make sense untuk
menjadi sebuah alasan mendukung tim sepakbola. Namun, saya yakin akan
ada juga yang menjawab seperti ini: Tidak ada alasan, I just love this club. Love with reason is not love.
Untuk orang-orang seperti ini, mari sepakat untuk tidak sepakat. Yes, you do have a reason. Untuk itu mari kita flashback ke
saat di mana anda untuk pertama kalinya menjadi fans atau supporter tim
favorit anda. Katakan pada saya, saat itu benarkah anda tidak memiliki
alasan untuk menjadi fans tim tersebut? Tim yang pertama kali saya
dukung adalah Manchester United dan alasan kenapa saya menjadi fans mereka saat
itu adalah: sebuah alasan bodoh sebenarnya, karena mereka adalah tim
eropa pertama yang saya tonton permainannya dari layar kaca. Saat itu
mereka sedang bertanding melawan Newcastle. Saat itu Manchester United menang.
Jadi inilah pendapat saya: anda selalu punya alasan pertama untuk menjadi fans sebuah tim. There’s a reason why we fall in love in the first sight. Mungkin
alasan anda sama seperti saya, mungkin juga anda melihat seorang pemain
yang selanjutnya menjadi pemain favorit anda, mungkin itu karena
pengaruh ayah anda, atau mungkin itu karena anda tidak sengaja melihat
berita akan tim tersebut. Apapun itu, itu adalah alasan pertama mengapa
anda jatuh cinta pada tim tersebut. Dan logika yang sama diterapkan pada
jatuh cinta. Ketika anda jatuh cinta pada seseorang, menurut saya, selalu ada satu
alasan utama yang menjadi pendorongnya. Mungkin mukanya manis,
senyumnya menawan, lesung pipinya yang menggoda atau badan bidangnya.
Selalu ada alasan. Bahkan bagi mereka yang berpendapat we’re just click each other, here’s the thing: it’s also a reason. Namun tenang, cinta sejati mungkin memang tidak mengenal alasan, tapi hal yang saya sampaikan di atas bukanlah berita buruk.
Mari melihat lebih jauh. Ketika anda tertarik pada seseorang, anda
akan masuk pada fase yang nge-trend disebut PDKT alias pendekatan. Di
sini adalah masa di mana anda berusaha menemukan another good reason untuk
jatuh cinta pada orang tersebut. Dan ketika semakin banyak alasan baik
anda temukan, mungkin anda akan semakin jatuh cinta. Anda akan menemukan
orang tersebut ternyata romantis, atletis, pengertian, humoris atau
alasan lain.
Bagaimana dengan sepakbola? Sama saja. Ketika anda tertarik pada
suatu tim, anda akan berada pada masa PDKT yaitu anda akan menonton
setiap pertandingan tim tersebut, mengecek skuad yang dimilikinya hingga
sejarah tim tersebut. Nantinya anda akan menemukan bahwa tim yang anda
gemari memainkan strategi paling seksi, memiliki sayap paling cepat,
pengoleksi gelar liga terbanyak atau alasan lainnya. Bagi saya, alasan
itu muncul dalam diri Cristiano Ronaldo. Pemain sayap ini menjadi
alasan terkuat saya untuk menjadi fans Manchester United pada masa itu selain
fakta bahwa di akhir musim saya menjadi fans Manchester United, mereka memenangi tittle Liga Inggris.
Namun cinta tidak melulu soal berita baik. Cinta terkadang butuh
perjuangan. Pada masa PDKT ini, anda akan menemukan alasan-alasan lain
untuk berpaling ke lain hati. Dalam sepakbola, mungkin tim yang anda
dukung justru sedang melempem, tidak pernah menjuarai liga Champion,
selalu kalah dalam derby, atau ditinggal pemain-pemain
terbaiknya. Dalam kasus jatuh cinta? Ternyata orang yang anda suka
ternyata kurang perhatian, suka hilang tanpa kabar, terlalu sibuk hingga
tidak punya waktu dengan anda, atau bahkan anda bukan prioritas
utamanya.
Tapi disinilah cinta anda diuji. Tentu gampang mencintai sesuatu yang
enak-enak dan menyenangkan terus menerus, bukan? Tapi sayangnya tidak
ada yang sempurna di dunia ini. Anda juga harus selalu berhadapan dari
sisi buruk tim anda ataupun orang yang anda sayangi. Pada momen ini,
beberapa kalah. Beberapa akhirnya berpindah ke lain hati. Beberapa tidak
memperjuangkan cintanya. Tapi masih banyak yang bertahan. Dan bagi
siapapun itu, selamat, anda mungkin telah memasuki fase yang disebut
cinta sejati.
Anda tidak peduli lagi tim anda sedang dalam trend baik atau tidak,
dihuni skuad terbaik atau tidak, menjuarai kompetisi atau tidak. Alasan
untuk mencintai sudah pudar. Bukan alasan yang menjadi titik utama cinta
anda, tetapi objek yang anda cintailah fokusnya. Anda akan melupakan
alasan kenapa anda memilih tim tersebut untuk pertama kali atau alasan
untuk pergi ke pujaan yang lain. Yang ada hanya perasaan tulus untuk
melihat tim anda terus bermain. The same thing happens in love story. Anda tidak peduli
seberapa cantik pasangan anda, seberapa kaya dia, ata alasan-alasan
parlente lainnya. Mungkin anda peduli, tapi bukan yang itu yang utama.
Yang utama adalah anda memilikinya dan akan melakukan apapun untuk
menyenangkannya. Di momen inilah, mungkin, anda berkenalan dengan cinta
tak bersyarat ala ftv-ftv zaman sekarang.
Sejatinya tulisan ini masih akan sangat panjang membahas mengenai
cinta dan sepakbola. Tapi sayangnya cinta itu praktek bukan sekedar
teori kan?
Anyway, sekarang tim favorit saya adalah Real Madrid jadi saya adalah seorang madridista. HALA MADRID POR SIEMPRE 1902!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar