Senin, 14 September 2015

Sepakbola dan Jatuh Cinta

 

Penulis-penulis bahkan banyak orang sering berkata: Kita tidak bisa memilih jatuh cinta kepada siapa. Setuju atau tidak, hal yang sama berlaku juga dalam menjadi fans atau supporter dalam dunia sepakbola. Dengan dimulainya perhelatan liga-liga di Eropa, mari kita juga menengok sejenak lapangan hijau dan melihat sepakbola dalam bentuk yang lebih luas, cinta.

Bagi saya, sepakbola dan cinta adalah hal yang sama. Keduanya adalah passion. Keduanya berasal dari hati. Keduanya adalah harapan. Kasarnya, tanyakan pada para jomblo yang malam minggunya ditemani pertandingan sepakbola? Tidak terlalu berasa sendiri kan? Atau terkadang menunggu tim favorit anda bertanding selama satu minggu hampir sama rasanya bertemu dengan kekasih yang telah lama tak berjumpa. Kalo menurut anda tidak, ya sudah terima saja dulu.

Bagi saya, cinta tanpa alasan adalah bullshit. Hmm, sebenarnya tidak sepenuhnya omong-kosong, tapi inilah teori saya: Anda tidak bisa benar-benar jatuh cinta tanpa alasan yang jelas. Kurang setuju? Mari lanjutkan baca tulisan saya sejenak dan lihat bagaimana saya memperlihatkan apa yang katakan di atas dengan sepakbola.

Ada fans MU di sini? Atau Juventus? Atau Real Madrid? Atau tim manapun? Boleh saya bertanya sesuatu, mengapa anda menjadi fans tim tersebut? Saya akan berterima kasih jika ada yang menjawab karena tim favorit anda selalu meraih trofi, karena pemain kesukaan anda bermain untuk tim tersebut, karena tim tersebut baru saja dibeli taipan minyak Arab atau alasan lainnya yang secara duniawi make sense untuk menjadi sebuah alasan mendukung tim sepakbola. Namun, saya yakin akan ada juga yang menjawab seperti ini: Tidak ada alasan, I just love this clubLove with reason is not love.

Untuk orang-orang seperti ini, mari sepakat untuk tidak sepakat. Yes, you do have a reason. Untuk itu mari kita flashback ke saat di mana anda untuk pertama kalinya menjadi fans atau supporter tim favorit anda. Katakan pada saya, saat itu benarkah anda tidak memiliki alasan untuk menjadi fans tim tersebut? Tim yang pertama kali saya dukung adalah Manchester United dan alasan kenapa saya menjadi fans mereka saat itu adalah: sebuah alasan bodoh sebenarnya, karena mereka adalah tim eropa pertama yang saya tonton permainannya dari layar kaca. Saat itu mereka sedang bertanding melawan Newcastle. Saat itu Manchester United menang.

Jadi inilah pendapat saya: anda selalu punya alasan pertama untuk menjadi fans sebuah tim. There’s a reason why we fall in love in the first sight. Mungkin alasan anda sama seperti saya, mungkin juga anda melihat seorang pemain yang selanjutnya menjadi pemain favorit anda, mungkin itu karena pengaruh ayah anda, atau mungkin itu karena anda tidak sengaja melihat berita akan tim tersebut. Apapun itu, itu adalah alasan pertama mengapa anda jatuh cinta pada tim tersebut. Dan logika yang sama diterapkan pada jatuh cinta. Ketika anda jatuh cinta pada seseorang, menurut saya, selalu ada satu alasan utama yang menjadi pendorongnya. Mungkin mukanya manis, senyumnya menawan, lesung pipinya yang menggoda atau badan bidangnya. Selalu ada alasan. Bahkan bagi mereka yang berpendapat we’re just click each otherhere’s the thing: it’s also a reason. Namun tenang, cinta sejati mungkin memang tidak mengenal alasan, tapi hal yang saya sampaikan di atas bukanlah berita buruk. 

Mari melihat lebih jauh. Ketika anda tertarik pada seseorang, anda akan masuk pada fase yang nge-trend disebut PDKT alias pendekatan. Di sini adalah masa di mana anda berusaha menemukan another good reason untuk jatuh cinta pada orang tersebut. Dan ketika semakin banyak alasan baik anda temukan, mungkin anda akan semakin jatuh cinta. Anda akan menemukan orang tersebut ternyata romantis, atletis, pengertian, humoris atau alasan lain.

Bagaimana dengan sepakbola? Sama saja. Ketika anda tertarik pada suatu tim, anda akan berada pada masa PDKT yaitu anda akan menonton setiap pertandingan tim tersebut, mengecek skuad yang dimilikinya hingga sejarah tim tersebut. Nantinya anda akan menemukan bahwa tim yang anda gemari memainkan strategi paling seksi, memiliki sayap paling cepat, pengoleksi gelar liga terbanyak atau alasan lainnya. Bagi saya, alasan itu muncul dalam diri Cristiano Ronaldo. Pemain sayap ini menjadi alasan terkuat saya untuk menjadi fans Manchester United pada masa itu selain fakta bahwa di akhir musim saya menjadi fans Manchester United, mereka memenangi tittle Liga Inggris.

Namun cinta tidak melulu soal berita baik. Cinta terkadang butuh perjuangan. Pada masa PDKT ini, anda akan menemukan alasan-alasan lain untuk berpaling ke lain hati. Dalam sepakbola, mungkin tim yang anda dukung justru sedang melempem, tidak pernah menjuarai liga Champion, selalu kalah dalam derby, atau ditinggal pemain-pemain terbaiknya. Dalam kasus jatuh cinta? Ternyata orang yang anda suka ternyata kurang perhatian, suka hilang tanpa kabar, terlalu sibuk hingga tidak punya waktu dengan anda, atau bahkan anda bukan prioritas utamanya.

Tapi disinilah cinta anda diuji. Tentu gampang mencintai sesuatu yang enak-enak dan menyenangkan terus menerus, bukan? Tapi sayangnya tidak ada yang sempurna di dunia ini. Anda juga harus selalu berhadapan dari sisi buruk tim anda ataupun orang yang anda sayangi. Pada momen ini, beberapa kalah. Beberapa akhirnya berpindah ke lain hati. Beberapa tidak memperjuangkan cintanya. Tapi masih banyak yang bertahan. Dan bagi siapapun itu, selamat, anda mungkin telah memasuki fase yang disebut cinta sejati.

Anda tidak peduli lagi tim anda sedang dalam trend baik atau tidak, dihuni skuad terbaik atau tidak, menjuarai kompetisi atau tidak. Alasan untuk mencintai sudah pudar. Bukan alasan yang menjadi titik utama cinta anda, tetapi objek yang anda cintailah fokusnya. Anda akan melupakan alasan kenapa anda memilih tim tersebut untuk pertama kali atau alasan untuk pergi ke pujaan yang lain. Yang ada hanya perasaan tulus untuk melihat tim anda terus bermain. The same thing happens in love story. Anda tidak peduli seberapa cantik pasangan anda, seberapa kaya dia, ata alasan-alasan parlente lainnya. Mungkin anda peduli, tapi bukan yang itu yang utama. Yang utama adalah anda memilikinya dan akan melakukan apapun untuk menyenangkannya. Di momen inilah, mungkin, anda berkenalan dengan cinta tak bersyarat ala ftv-ftv zaman sekarang.

Sejatinya tulisan ini masih akan sangat panjang membahas mengenai cinta dan sepakbola. Tapi sayangnya cinta itu praktek bukan sekedar teori kan?

Anyway, sekarang tim favorit saya adalah Real Madrid jadi saya adalah seorang madridista. HALA MADRID POR SIEMPRE 1902!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar