Sabtu, 19 Desember 2015

PANCASILA



ARTIKEL PANCASILA
DISUSUN UNTUK MEMENUHI SYARAT SALAH SATU TUGAS UAS PANCASILA
Dosen : Drs. Yosephus Sudiantara B. Th.,M.S.



Kelas 3D
Nama  Penyusun:
Dionisius Okky Pratama Putra – 141134016



           



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2015
PANCASILA SEBAGAI KOMPAS DALAM BERPERILAKU

PANCASILA, sebuah kata yang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kata Pancasila berasal dari bahasa sansekerta yaitu panca yang artinya lima dan sila yang artinya asas. Munculnya Pancasila ini juga melalui proses yang cukup rumit yang dimulai dari pembentukan BPUPKI hingga perdebatan para tokoh di dalam sidang yang akhirnya mampu menghasilkan Pancasila yang terdiri dari lima sila .  Kelima sila tersebut yaitu: 1. Ketuhanan Yang Maha Esa, 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab, 3. Persatuan Indonesia, 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kelima sila inilah yang bahkan hingga sekarang masih digunakan oleh bangsa Indonesia sebagai acuan dalam bertingkah laku.
Pancasila adalah dasar negara Republik Indonesia atau disebut juga dengan dasar falsafah negara atau ideologi negara (Nurdiaman 2007). Hal ini berarti bahwa Pancasila adalah dasar  dalam menjalin kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan kata lain, Pancasila menjadi “kompas” yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan bangsa Indonesia. Salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan berperilaku sesuai sila-sila yang ada di dalam Pancasila. Di Indonesia ini sendiri kita dengan mudah dapat menemukan berbagai macam perilaku warga negara yang sesuai dengan sila-sila pada Pancasila misalnya, saling membantu, ramah, gotong royong dan lain-lain. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah dengan adanya Pancasila sebagai dasar dalam menjalin kehidupan berbangsa dan bernegara sudah bisa dipastikan bahwa perilaku semua warga negara pasti sesuai dengan Pancasila ? Tentu saja belum, karena terdapat masih banyak perilaku yang tidak sesuai dengan Pancasila yang pastinya akan menjadi penghambat bagi bangsa Indonesia untuk mencapai tujuannya. Jadi, perilaku warga negara Indonesia ini belum dapat dikatakan semua sesuai dengan Pancasila karena masih banyak orang / perilaku yang menyimpang dari Pancasila.
Di dalam sila pertama yang berbunyi, “Ketuhanan Yang Maha Esa” terdapat nilai-nilai religius seperti, kepercayaan dan ketakwaan terhadap Tuhan sebagai pencipta segalanya. Banyak perilaku yang selaras dengan sila pertama misalnya, menyayangi binatang, menyayangi tumbuhan, menjaga kebersihan lingkungan, dan berbuat baik kepada sesama. Pada sila yang kedua yang berbunyi, “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” terdapat nilai-nilai perikemanusiaan yang harus diperhatikan di dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa perilaku yang sesuai dengan sila ini seperti, mengakui hak asasi orang lain, berlaku adil kepada semua orang, dan tidak pilih kasih. Sila yang berikutnya adalah, “Persatuan Indonesia” dimana terdapat nilai-nilai yang menyangkut persatuan bangsa Indonesia. Sila ini nampak ketika semua warga sudah dapat saling menghargai perbedaan, saling membantu, dan saling menghormati. Pada sila ke empat yang berbunyi ,”Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan” terdapat nilai-nilai kerakyatan seperti melakukan musyawarah untuk mencapai mufakat. Pada sila kelima / sila terakhir yang berbunyi, “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” terdapat nilai-nilai keadilan sosial seperti, keseimbangan antara hak dan kewajiban, menghormati hak yang dimiliki oleh orang lain, dan perlakuan sama yang diperoleh semua warga negara baik itu di dalam bidang politik, ekonomi, maupun sosial budaya.
Sugeng Priyanto (2008:28) mengatakan bahwa seseorang yang memiliki sikap positif terhadap nilai-nilai Pancasila berarti orang tersebut konsisten dalam ucapan dan perbuatan serta tingkah lakunya sehari-hari yang selalu menjunjung tinggi etika pergaulan yang luhur, menjaga hubungan baik antar sesama warga masyarakat Indonesia dan bangsa lain, dengan tetap mempertahankan dan menunjukkan jati diri bangsa yang cinta akan perdamaian dan keadilan sosial. Pancasila memang menjadi pedoman bagi semua warga dalam berperilaku, dengan kata lain dari semua kegiatan / perilaku apa saja yang dilakukan oleh semua warga negara baik dengan atau tanpa disadari telah mencerminkan nilai-nilai positif yang ada di dalam Pancasila. Bahkan beberapa perilaku yang sesuai dengan Pancasila tersebut terjadi di sekitar kita seperti, di dalam bus, warung makan, cafĂ©, tempat rekreasi, bahkan di tempat tambal ban. Pada intinya, terdapat nilai-nilai Pancasila yang dapat menimbulkan integritas di dalam masyarakat di tempat-tempat tersebut, walaupun belum bisa dikatakan bahwa  pada semua tempat tersebut selalu terdapat perilaku yang sesuai dengan Pancasila karena terkadang masih saja terdapat orang yang tidak berperilaku yang sesuai dengan Pancasila yang malah menimbulkan disintegrasi sosial misalnya pilih kasih, berperilaku tidak adil, tidak mau menghormati orang lain, dan tidak mau menerima perbedaan.
Hadirnya Pancasila memang menjadi acuan atau pedoman bagi kita untuk melakukan perilaku yang baik demi terwujudnya kehidupan yang baik pula, namun sebenarnya untuk memilih berperilaku sesuai dengan Pancasila atau malah berlawanan dengan Pancasila itu kembali kepada pribadi kita masing-masing.











Daftar Pustaka :
·         Nurdiaman.2007.Pendidikan Kewarganegaraan: Kecapakan Berbangsa dan Bernegara. Bandung : Grafindo Media Pratama
·         Priyanto, Sugeng.2008. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta : PT. Gramedia





Tidak ada komentar:

Posting Komentar